Besar dan Berani

Pembaca yang kreatif, suatu ketika pada saat rapat seorang teman nyeletuk tentang seseorang yang besar, mestilah agak sulit berlari atau berlarinya semakin melambat. Namun teman ini dengan cepat mengatakan ‘bisa’. Seisi ruangan rapat langsung tertawa senang. Apakah ini adalah respons dari jawaban jujur dikarenakan memang sudah terbiasa olah raga lari? 

Ataukah ini adalah jawaban yang menolak pendapat jika besar dan gemuk kita akan semakin melambat. Apapun jawabannya seisi ruangan hanya bisa tersenyum. Dan akhirnya contoh itu pun tidak perlu dibahas kembali. Teringat potongan lirik lagu Gajah yang dinyanyikan oleh Tulus. “Besar dan berani berperang sendiri. Yang aku hindari hanya semut kecil. Otak ini cerdas ku rakit perangkat. Wajahmu tak akan pernah ku lupa. Waktu kecil dulu. Mereka menertawakan. Mereka panggilku gajah. Ku marah ku marah.”

Pembaca yang kreatif, sewaktu kecil Tulus sering disebut ‘Gajah’ oleh beberapa temannya. Mulanya dia marah dengan sebutan itu. Namun disini terlihat kemampuan menerima sesuatu yang bermaksud negatif dan mengubahnya menjadi bermakna positif. 

Cara ini disebut reframing. Jika sesuatu negatif masuk dalam pikiran kita maka pilihannya ada dua. Pertama kita membiarkan yang negatif itu masuk mulus dan memengaruhi pikiran kita? Membuat kita sulit tidur nyenyak dan makan berselera. Terbayang kata/kalimat yang membuat pikiran tidak nyaman.

Akhirnya marah dan malas ketika bertemu dengan orang yang berkomentar tersebut. Kita telah kehilangan kegairahan dikarenakan ungkapan yang telah kita dengar. Dan yang menjadi repot adalah ketika itu berdampak pada pekerjaan dan target kita. Anda tentunya harus berpikir, apakah benar harus mendengarkan kalimat ini? Kedua, kita tidak akan membiarkan kata/kalimat yang diucapkan tadi masuk dengan mudah dalam pikiran kita. Kalimatnya tetaplah seperti itu. Namun maksud yang masuk dalam pikiran kita sudah berbeda.

Bingkai positif membuat kalimat yang terucap masuk sebagai bagian dari apresiasi positif. Memaknai gajah seperti yang dikatakan Tulus dalam lagunya itu adalah, “Kini baru ku tahu. Puji di dalam olokan. Mereka ingatku marah. Jabat tanganku panggil aku gajah. Kau temanku kau doakan aku. Punya otak cerdas, aku harus tangguh. Bila jatuh, gajah lain membantu. Tubuhmu di situasi rela jadi tamengku.”

Pembaca yang kreatif, ungkapan adalah doa. Ketika kita berhasil membuat ungkapan yang masuk menjadi kalimat penuh makna positif, yang terjadi adalah kita semakin tenang dan santai dengan keadaan itu. Malah justru kita bisa menjadikannya sebagai ungkapan doa dari teman untuk kita agar bersyukur dengan tubuh besar dan kuat. Bisa melindungi dan berani dalam situasi apapun.

Pembaca yang kreatif, toh pada akhirnya, kita menyadari bahwa kita ini semuanya menjalani hidup dengan berproses. Berharap suatu saat nanti tujuan kita tercapai dan memberi hasil terbaik dan penuh manfaat. “Kecil kita tak tahu apa-apa. Wajar bila terlalu cepat marah. Kecil kita tak tahu apa-apa. Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik”. Sekali lagi, mungkin saat ini kita menganggap seseorang itu biasa.

Namun kesungguhan mengambil peluang dan keberanian menghadapi tantangan bisa menjadikan hasil akhirnya diluar kenyataan. Sekali lagi kata Tulus, Yang terburuk (terbawah/ terendah) kelak bisa jadi yang terbaik. 

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 18 November 2022 Rubrik Inspira halaman 8.


BAGIKAN