Fotografi kini menjadi elemen penting dalam membangun citra dan kredibilitas perguruan tinggi di tengah kompetisi branding yang semakin ketat. Menyadari peran strategis visual dalam komunikasi publik melalui pemberitaan media, Direktorat Komunikasi Publik (DKP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar agenda Kelas Fotografi Jurnalistik bertajuk ‘Membangun Citra Kampus Muda Mendunia melalui Fotografi’ pada Senin (1/12) di ruang sidang FISIPOL UMY, yang diikuti oleh staf dan jurnalis internal DKP UMY.
Dalam sesi pelatihan, fotografer nasional dari media ANTARA, Andreas Fitri Atmoko, menekankan bahwa fotografi jurnalistik bukan hanya aktivitas merekam kejadian, tetapi seni membangun cerita melalui visual. Andreas menyampaikan bahwa seorang fotografer jurnalistik yang handal seharusnya sudah memiliki bayangan utuh tentang foto yang ingin dihasilkan.
“Dalam foto jurnalistik, kita itu tidak hanya memotret, tetapi menciptakan gambar. Sembilan puluh persen foto itu sebenarnya sudah jadi di pikiran fotografer sebelum diambil,” jelas Andreas.
Setiap foto yang baik memiliki point of interest yang jelas, mampu bercerita, dan menyampaikan elemen-elemen realitas yang tidak sepenuhnya bisa dijangkau oleh teks. Andreas menegaskan bahwa fotografer membutuhkan kemampuan membaca situasi, mengantisipasi momen, serta memahami komposisi visual seperti cahaya, ruang tajam, fokus, dan gestur.
Tidak hanya urusan teknis, Andreas menyoroti pentingnya etika dan empati ketika memotret manusia. Menurutnya, fotografer harus menghargai kenyamanan objek serta mempertimbangkan dampak publikasi sebuah foto.
“Kita harus siap menjebak momen. Lihat background-nya, tunggu siapa yang lewat, perhatikan gestur dan cahaya. Namun kalau harus memilih antara momen dan etika, saya tetap memilih etika. Fotografer itu tidak hanya mengejar gambar, tapi menjaga martabat orang yang kita potret,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa fotografi merupakan medium yang sangat cepat dalam menyampaikan pesan di era digital. Durasi perhatian audiens yang singkat membuat foto harus mampu menyampaikan inti cerita secara langsung.
Materi Andreas kemudian berkembang pada perbincangan teknis, riset sebelum pemotretan, kemampuan improvisasi di lapangan, hingga bagaimana fotografer membangun konsep visual sebelum momen datang. Ia menekankan bahwa fotografer harus peka dan sabar dalam menunggu situasi terbaik agar elemen visual tersusun kuat dalam satu frame.
Direktur DKP UMY, Dr. Ratih Herningtyas, M.A., menyampaikan bahwa fotografi telah menjadi kebutuhan strategis dalam komunikasi publik perguruan tinggi. Ia mengungkapkan bahwa visual yang kuat kini menjadi bagian penting dari branding UMY.
“Fotografi hari ini bukan lagi sekadar hobi. Ia adalah instrumen strategis yang membangun citra dan kredibilitas. Tantangan terbesar kami adalah menghasilkan foto yang bisa bercerita, yang dari visualnya saja sudah mampu memberi makna,” jelasnya.
Ratih menambahkan bahwa UMY sangat bergantung pada kualitas dokumentasi dan visual dalam menyampaikan informasi publik, sehingga peningkatan kapasitas jurnalis internal menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. (ID)