LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Admin LLDIKTI visibility 213 kali
Generasi Mandiri 4.0
19 Nov
2021
Jumat,19 November 2021

Pembaca yang kreatif, Rabu (17/11) lalu saya diminta berbagi inspirasi pada kajian MQ Pagi di channel AaGym. Talkshow yang dijadwalkan berempat itu juga bersama Ustaz Abdurrahman Yuri yang akrab disapa Aa Deda dan Coach Gatot Kunta Kumara, Ketua Yayasan DTR (Daarut Tauhiid Rahmatan Lil 'Alamin).  Pembicaraan kami seputar sekolah pencetak generasi mandiri 4.0. Mengapa sekolah? Ya, dikarenakan sekolah adalah tempat pengetahuan ditempa, skill diperkuat, dan karakter dibentuk. Sekolah melatih siswa menjadi seorang yang kompeten. 

Kompeten itu sama dengan hard skill dikali soft skill dan dikali karakter. Ingatlah ketika operatornya adalah perkalian, semua harus memiliki nilai, tidak boleh nol. Jika salah satu dari unsur tadi nol. Yakinlah hasil akhirnya pun menjadi nol. Ketiga komponen itu harus melekat. Memiliki hard skill namun tidak mengusai soft skill. Hard skill dan soft skill ada namun tidak berkarakter. Begitu sebaliknya dan seterusnya. Lalu bagaimana kita membangun generasi siap maju dengan tantangan era industri 4.0 ini, sehingga bisa menjadi generasi yang mandiri? 

Pertama, siswa belajar dan menguasai problem solving. Mengapa problem solving harus dilatih? Kemandirian seorang siswa terlihat bagaimana cara dan sikapnya dalam mengatasi persoalan. Ketika dihadapkan pada masalah, maka dia harus belajar mencari jalan keluar. Apa solusi dari kejadian ini? Itulah satu contoh sikap mandiri. Sementara siswa yang tidak memiliki jiwa kemandirian akan cenderung bertanya dan mengaitkan persoalan yang terjadi dengan keadaan diri mereka sendiri.

Bagaimana nasib mereka nanti? Kekhawatiran dan menyalahkan orang lain menjadi alasan. Tentu generasi saat ini tidak bisa terlalu santai menghadapi tantangan. Persoalan yang dihadapi semakin kompleks. Dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam menyelesaikan persoalan.

Kedua, berpikir kritis dan berbicara. Sudah saatnya kita melatih generasi 4.0 menjadi leader, bukan sekedar follower. Memimpin akan membuat mereka lebih humanis dan memahami keadan orang lain. Seorang leader akan terbiasa dengan alternatif keputusan. Leader akan banyak berbicara hal stategis dibanding cuma basa-basi. 

Generasi saat ini dilatih menganalisa dan bertanya tentang hal yang diterimanya. Bertanya akan membuat dia belajar, bertukar pikiran dan ide dengan orang lain. Misalnya ketika mendapatkan suatu pesan, maka bertanyalah. Apakah ini benar sesuai fakta atau hoaks? Dari mana sumbernya? Apakah ini bermanfaat jika diteruskan ke orang lain? 

Selanjutnya mereka harus mengutarakan ide mereka ke orang lain. Mempresentasikannya dalam ajang lomba. Mengutarakan idenya ketika berdiskusi dengan calon investor. Tentu semua itu membutuhkan kemampuan public speaking yang handal. Maka bekalilah mereka. 

Ketiga, kreativitas dan kolaborasi. Ajarilah siswa untuk melihat yang terjadi di sekitar mereka dan menggabungkannya dengan teknologi sehingga menghasilkan karya. Banyaknya start-up yang bermunculan membuat generasi saat ini harus siap menjadi pemimpin muda dengan kreativitas tinggi.  

Melihat keadaan sekitar dan menggabungkannya lalu menjadi sesuatu. Misal melihat kebutuhan masyarakat dan mengkoneksikannya dengan pengemudi ojek, maka jadilah start-up. Melihat jamaah yang ingin nyaman beribadah di Masjid yang bersih dan steril. Kemudian mengaitkannya dengan kondisi Covid-19 maka jadilah produk start-up yang diberi nama UVC Sterilizer Lantai Masjid yang Aman (USMAN).

Pembaca yang kreatif, semua bisa terjadi ketika mereka berkolaborasi dalam multi kemampuan, seperti sains, keuangan, teknologi informasi dan pemasaran. Sekolah adalah tempat yang tepat mencetak itu semua. 

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 19 November 2021 Rubrik Inspira halaman 8.