LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Admin LLDIKTI visibility 123 kali
Guru, Heroes di Era Society 5.0
26 Nov
2021
Jumat,26 November 2021

Pembaca yang kreatif, saya mengikuti upacara peringatan Hari Guru dengan Sekolah Prestasi Prima Jakarta secara virtual. Bersamaan dengan acara itu juga ternyata adalah ulang tahunnya Ketua Yayasan Ibu Flores Sagala yang biasa saya panggil Kakak. Saya sangat suka dengan quote yang selalu beliau pakai dalam sambutannya, “If better is possible, good is not enough”. Saya tahu bagaimana kegigihan beliau membangun sekolah (SMK dan SMA) dengan mewujudkan fasilitas terbaik hingga sekarang menjadi salah satu sekolah favorit di Jakarta.

Beliau sangat memahami jika gurunya bersemangat maka prestasi yang akan didapat. Apa lagi pendidikan saat ini berada pada situasi Covid19 dan dalam era revolusi industri 4.0. Tentu kita memahami bahwa perkembangan industri 4.0 akan diikuti oleh perkembangan pola pikir dan aktivitas pribadi di masyarakat (society).

Dirilisnya konsep Society 5.0 juga merupakan jawaban dari tantangan yang sedang dihadapi Jepang sendiri. Inovasi yang dilakukan bukan semata hanya mengejar inovasi teknologi melainkan melihat apa kebutuhan dari masyarakatnya. Masyarakat lebih mudah beraktivitas dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi.

Dalam bidang pendidikan, seperti yang dirasakan saat ini, kita sudah melakukan pembelajaran PJJ yang panjang. Walaupun tetap ada saja yang merasa tidak nyaman dengan metode itu. Namun, selalu terbuka banyaknya peluang yang bisa dimanfaatkan melalui jaringan telekomunikasi.

Sejak tahun lalu saya sering sekali ditanya mahasiswa kapan kuliah offline? Pengelola fakultas berpikir, merapatkan dan akhirnya mengeluarkan keputusan bahwa November adalah masa Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Namun apa yang terjadi pada saat sosialisasinya? Ternyata tidak semua mahasiswa menyambut gembira.

Tagar #stayonline #mendingonline #enakonline juga menghiasi live comment. Kembali lagi, orang akan menyukai kebiasaan yang sudah dia lakukan. Sebenarnya tinggal bersabar saja melakukan aktivitas itu selama tiga pekan hingga tiga bulan. Nanti akan terjadi banyak perubahan kebiasaan sampai menjadi life style

Pembaca yang kreatif, melihat peluang dan tantangan ini membuat guru bukan hanya menjadi guru dengan aktivitas biasa (mengajar) saja. Guru bisa menjadi fasilitator dan role model muridnya. Guru akan menghadapi generasi yang waktu koneksinya, lebih banyak dari gurunya. Waktu berselancar di dunia maya dan media sosial tak terbatas urusan lain.

Teori yang mereka dapatkan dari internet begitu banyak. Bahasan video yang mereka tonton sangat beragam. Mulai dari analisa suatu masalah, pengetahuan, uji coba riset, pendapat pakar, dan kisah inspiratif siswa dalam perlombaan. Bahkan mereka juga belajar dan menyerap wawasan dari mahasiswa yang menjadi youtuber di belahan dunia. Apalagi saat ini banyak artis yang menempuh pendidikan tinggi dan menjadi alumni dari kampus bergengsi di luar negeri. 

Itulah mengapa guru harus menjadi idola (figur). Setelah dari rumah, anak menemukan idolanya di sekolah. Mereka mendapatkan inspirasi dari gurunya.  Seperti yang sudah pernah anda tonton dalam film Laskar Pelangi. Betapa seorang guru menjadi pahlawan bagi muridnya. Jika hal itu terwujud maka transfer knowledge akan semakin mudah disampaikan. Dikarenakan faktor figur adalah salah satu cara untuk menembus batas kritis seseorang dari alam pikiran sadar ke alam pikiran bawah sadar. Kita tentu bangga jika figur mereka, heroes mereka adalah gurunya. Bisa dikatakan, jika keren gurunya, maka semakin kreatif siswanya. Guru memang bukan orang yang hebat namun banyak orang hebat karena mendapat coaching dari gurunya.

Sehat dan teruslah terinspirasi.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 26 November 2021 Rubrik Inspira halaman 8.