LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Berita PT local_library Universitas Ahmad Dahlan visibility 31 kali
Jerman dan Cerita Pendidikan Suhendra
22 Jul
2021
Kamis,22 Juli 2021

“Masa muda menjadi masa yang tidak akan pernah terulang. Maka manfaatkanlah sebaik mungkin dengan perbanyak ilmu, pengalaman, dan kerja mimpi hingga ke luar negeri,” tutur Dr. Ing. Suhendra selaku dosen Program Studi (Prodi) Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) saat berbagi kisah di Talkshow Dosen Inspiratif yang disiarkan langsung di kanal YouTube PMB UAD (25-06-2021).

Suhendra membagikan pengalaman menuntut ilmu dan bekerja di Jerman selama sepuluh tahun. Berawal dari keinginannya untuk melanjutkan studi Strata 2 (S2) dan memperoleh beasiswa hingga S3 di Jerman. “Setiap peluang akan dapat ditangkap bagi orang-orang yang sudah siap. Maka persiapkanlah diri untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Beasiswa yang saya peroleh dapat saya tangkap sebagai peluang besar dalam mengembangkan potensi diri. Meski melanjutkan S2 hingga S3 di Jerman, tentu saya perlu adaptasi,” imbuhnya.

Perbedaan budaya, bahasa, sosial, dan iklim tentu membuatnya perlu melakukan adaptasi. Jerman sebagai negara industri sekaligus negara maju memberikan kesan tersendiri agar mampu menjadi manusia yang mandiri. Perkembangan teknologi sangat pesat dengan hadirnya berbagai pusat penelitian dan industri di dunia.

“Jika kamu cinta pada kampung halaman, maka merantaulah. Tinggalkan kampungmu agar kamu menjadi orang yang berani bertarung di luar sana. Merantau akan menjadikan kita terasah dan teruji dengan kualitas dan kompetensi diri. Merantaulah untuk membuktikan bahwa diri sendiri pantas bersaing dengan orang lain serta membuktikan bahwa anak kampung dapat sukses di luar sana,” jelas Suhendra saat memberikan motivasi bagi calon mahasiswa UAD.

Pengalamannya di Jerman membuktikan bahwa dengan merantau dapat menggapai impian dan meraih gelar. “Alhamdulillah selesai kuliah doktoral, saya diterima sebagai ilmuwan pertama Indonesia yang bekerja di lembaga riset di bawah Kementerian Pendidikan Jerman.” (Chk)