LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Berita LLDIKTI V local_library Admin LLDIKTI visibility 114 kali
UII Tambah Guru Besar Bidang Ilmu Hukum
31 Ags
2021
Selasa,31 Agustus 2021

Guru Besar di lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bertambah satu lagi menjadi 24 orang. Penyerahan SK Guru Besar ini disampaikan oleh Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Akt,  Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Yogyakarta kepada Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, Rektor Universitas Islam Indoneisa kemudian diteruskan kepada Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum pada Selasa (31/08/2021) di Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia. Acara Penyerahan SK Guru Besar ini dilakukan secara luring terbatas sesuai protokol kesehatan (prokes) dan daring melalui kanal Youtube UII.
Dalam acara tersebut, turut pula dibacakan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 48929/MPK.A/KP.05.01/2021 tentang Kenaikan Jabatan Akademik Dosen oleh Taufiqurrahman, SE., Kepala Bagian Tata Usaha LLDikti Wilayah V.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Islam Indonesia mengatakan bahwa  hal ini bukan hanya kebahagiaan Prof. Budi Agus Riswandi semata, melainkan juga kebahagiaan keluarga besar Universitas Islam Indonesia, dan berharap akan semakin banyak dosen UII yang mencapai jabatan akademik tertinggi.

Sementara itu Drs. Suwarsono Muhammad, M.A, Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia mengungkapkan harapannya agar kelak di UII akan ada Pusat Studi Sains dan Teknologi yang dipimpin oleh para Profesor, seperti yang telah ada di Chicago University, Berkeley University, dan Oxford University.

Di akhir acara, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Akt. menyampaikan bahwa SK Guru Besar ini merupakan SK Guru Besar ke-31 yang diserahkan oleh beliau semenjak menjabat sebagai Kepala LLDikti Wilayah V. “Banyak dosen yang punya mindset bahwa kegiatannya harus ada kaitannya dengan “kum”. Kalau tidak ada, kita enggan untuk menyentuhnya. Padahal bisa jadi rakyat atau masyarakat membutuhkan. Masyarakat butuh sesuatu yang ada jarak dengan kita.” Begitu pesan beliau untuk membagikan ilmunya, agar tidak terjebak dalam koridor angka kredit.