LEMBAGA LAYANAN PENDIDIKAN TINGGI
WILAYAH V YOGYAKARTA
Jalan Tentara Pelajar Nomor 13 Yogyakarta
IKUTI KAMI
Artikel local_library Admin LLDIKTI visibility 92 kali
False Hope Syndrome
04 Jun
2021
Jumat,04 Juni 2021

Pembaca yang kreatif, saya mengerti istilah False Hope Syndrome atau "Sindrom Harapan Palsu" dari mbak Analisa Widyaningrum (Psikolog) ketika kami (ada empat narasumber) diminta mengisi pembekalan untuk Guru BK se-Provinsi Riau. Keadaan ini biasanya ketika seseorang yang memiliki keinginan tinggi namun untuk usaha mencapai keinginan itu hanya bertahan beberapa saat. 

Mengapa ini bisa terjadi? Karena orang berpikir mengubah sesuatu itu bisa dengan cepat, seperti membalik telapak tangan. Padahal semua yang dilakukan itu seperti halu saja. Ingin berubah namun tidak menyadari bahwa perubahan itu akan terjadi ketika orang yang menga takan itu berkomitmen, bahkan mengikhlaskan perubahan yang terjadi pada dirinya.

Ketika diminta oleh SMA UII Yogyakarta dalam memberikan penguatan kepada guru BK terkait bagaimana Covid-19 berdampak secara emosional kepada peserta didik dan bagaimana cara kita untuk membantu mereka keluar dari persoalan itu, saya menyarakan salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mengajak para siswa itu bercerita pada diri mereka sendiri dengan kalimat positif (self-talk).

Kita juga bisa membantu siswa dengan meminta mereka menuliskan jawaban dari beberapa pertanyaan yang kita ajukan. Pastikan kita memberikan jeda waktu dalam setiap pertanyaan yang diajukan, agar terjadi self-talk pada peserta. Pertama, kita bisa mulai dengan bertanya, apa saja aktivitas mereka saat ini? Kedua, Jika Allah SWT mewujudkan keinginkan mereka, maka apa saja penetapan tujuan (goal setting) yang akan ditetapkan di masa depan? Ketiga, apa yang sudah harus mereka wujudkan dalam waktu satu tahun ke depan? Keempat, apa kebiasaan yang harus mereka miliki untuk mewujudkan tujuan itu?

Kelima, apa yang membuat mereka bersemangat untuk mewujudkan tujuan itu? Keenam, tentu dalam meraih kesuksesan, mereka akan belajar dari tokoh yang bisa berperan sebagai mentor/guru/sumber inspirasi. Mintalah mereka menuliskan tiga orang yang akan dijadikan mentor (baik dari keluarga, sekolah, lingkungan, penulis yang mereka pernah baca bukunya namun belum pernah bertemu orangnya. Bisa juga mereka membaca biografi seseorang yang mereka jadikan idola, tokoh agama, Youtuber yang mereka sering tonton, tokoh nasional, bahkan teman sebaya mereka sendiri). Ketujuh, tanyalah seberapa yakin mereka dapat meraih itu semua (dengan memberikan skor 10 sampai 100).

Ketika pertanyaan itu sudah diajukan, mintalah para siswa membacakan apa yang mereka tulis tadi sambil bergantian dan memberikan saran. Cara ini bisa membantu mereka menetapkan tujuan dan menemukan gambaran untuk meraih apa yang mereka tulis dan belajar dari role model yang mereka sukai. Saya bertanya apa yang mereka rasakan setelah menjawab beberapa pertanyaan tadi. Kebanyakan peserta (baik siswa/mahasiswa) merasakan bahwa mereka seperti diminta untuk berpikir tentang apa tujuan dan cara mereka untuk meraih itu semua. Rasanya semakin bersemangat dalam meraih yang mereka inginkan. Ada yang menyampaikan terasa mereka seperti membicarakan gambaran masa depan yang diinginkan. Padahal selama ini tidak pernah menceritakan ini kepada orang lain.

Terkadang saya juga menggunakan teknik Deep Trance Identification kepada salah satu peserta. Memintanya memilih salah satu tokoh yang kuat yang akan dijadikan sebagai role model. Mengambil rasa dan contoh-contoh baik, bahkan inspiratif dari tokoh itu. Seperti bagaimana mereka sukses dalam karier, bisnis, dan kehidupan sosialnya. Dengan menggunakan cara ini kita akan bisa membantu orang-orang dekat kita agar semakin yakin dan mengetahui yang harus mereka lakukan untuk meraih kesuksesan di masa depan mereka agar tidak terjebak dalam situasi False Hope Syndrome.

Sehat dan sukses selalu.

Tulisan ini telah dimuat di harian Republika tanggal 4 Juni 2021 Rubrik Inspira halaman 8.